SELAMAT DATANG, Maaf Jika Dalam beberapa penulisan ada Kata/Arti yang salah ataupun Typo. Saya bukan manusia yang sempurna :)
Saat ini saya sedang fokus menulis beberapa Cerita Bersambung maupun Cerita Pendek, Mohon Doanya semoga bisa menyelesaikannya dengan baik, Terima kasih ☺
Comming Soon : CINTA DUNIA MAYA (Cerbung) By: Muhammad Yunus Siregar

Senin, 15 Juli 2013

Nino & Dua Dimensi Part 2

By mysJ

            ….. Kemudian.
            Nino masih terus dengan titik fokusnya. Hanya memutar – balik handphone dengan perasaan gundah yang terus memaksanya untuk segera menghubungi wanita yang kemarin siang memberikan kartu namanya pada Nino. ini adalah squel saat – saat dimana Nino kalah dengan perasaannya. Ia ingat sekali saat dimana Ia bertanya pada Dara tentang siapa orang yang saat ini mengisi hatinya. Ia bahkan tak cukup tangguh untuk meyakinkan dirinya dengan kenyataan yang sebenarnya mencabik – cabik perasaannya. Nino kecewa.
            “Ayoo angkat dong…..” Hanya nada seperti bunyi kereta api uap yang Ia dengar dari dalam loudspeaker handphonenya. Tak ada orang disana.
            “Tut..tut..tut..”
            “Yah, gak diangkat. Mungkin lagi sibuk belajar atau gimana” Batin Nino dalam hati.
Nino ingat akan kejadian malam itu. malam dimana Ia mengurungkan niatnya untuk kembali berusaha menghubungi Dara. Di cerita sebenarnya, Dara bukannya tidak ingin mengangkat telfon dari abang kelasnya semasa SD dulu tersebut, Ia hanya sedang bersedih hati karena Dalan orang yang selama ini dekat dengannya ternyata menaruh hati kepada salah seorang sahabat Dara. Malam itu dara hanya ingin menghabiskan waktu dengan airmata. Jika bukan karena Nino tidak percaya diri dimasa lalu? Mungkin sampai waktunya tiba Dara mengira bahwa nomer handphone Nino adalah nomer handphonenya Dalan.
            “Dara, ini Nino. Kamu lagi sibuk ya? Kalo uda gak sibuk lagi mohon dibalas” singkat mungkin pesannya namun di squel ini Nino berhasi mengingat dan memperbaiki kesalahannya. Cerita mulai berubah alur saat ini. Nino yang sebenarnya tidak tahu apapun mengenai apa yang terjadi jika ceritanya berubah. Apakah Dara akan membalas lalu merasa Nino membantunya dalam memutar kesedihan yang Ia rasakan?
            “Oh, kak Nino ya? Maaf kak tadi Dara kirain siapa. Kakak lagi ngapain?” balasan pesan singkat dari Dara untuk Nino.
            “Oh tuhan dia membalasnya! Beginikah ceritanya jika dari dulu aku mengubah sifat pengecutku hanya untuk mempertebal keberanian dengan sekedar meng-sms Dara?”
            Jalan ceritanya berubah. Tak lagi sama dengan kejadian di kehidupan nyata yang pernah Nino alami. Kehadiran Nino sangat membantu Dara dalam menyisihkan kesedihan yang Ia rasakan. Nino tak hanya bermakna seorang kakak kelasnya dulu, Ia juga mampu memikul beban yang Dara rasakan dengan menjadi pendengar yang budiman saat Dara bercerita tentang masalah yang Ia alami. Tak jarang Ia mendengar Isak Dara yang mencoba menghela nafas saat Ia bercerita. Mungkin dadanya sesak mengikuti batinnya yang terikat kuat diatas kenyataan yang terjadi.
            Remang – remang wajah Tuan Pensil mulai tampak tergambar. Alur kesalahan Nino telah berubah satu persatu. Namun ada rasa tidak puas dimana saat Ia mencoba menikmati kesalahan yang beputar arah menjadi sesuatu yang benar, namun peraturan didimensi itu memaksanya untuk keluar sebelum Ia benar – benar merasa melepas kerinduan saat menjalani masa – masa dimana Ia dan Dara bersama. Ya, ini bukanlah kesempatan untuk kembali bernostalgia dan melepas rindu dengan orang yang Ia cintai. Tapi bagaimana Nino memperbaiki puing – puing kesalahan dan penyesalannya menjadi sesuatu yang paling benar dalam hidupnya.
            Gambar baru muncul didinding ruang dimensi ruang tersebut. Tergambar jelas wajah Dara yang tersenyum bahagia mendengar guyonanku di telefon. Seiring dengan airmataku yang tiba – tiba jatuh menetes.
            “Kenapa Nino?” Tanya Tuan Pensil. Namun aku hanya diam. Aku tak bisa berkata apapun tentang apa yang kurasakan saat itu. entah rasa bahagia, rasa rindu, atau rasa kecewa aku tidfak begitu mengerti. Yang kurasakan adalah begitu sesaknya dada untuk bisa mengetahui hal apa yang terjadi jika saja sudah dari awal aku memperbaikinya. Sehingga sosok Dara di kehidupan nyataku mungkin masih bersamaku dan tak ada penyesalan yang kurasakan.
            “Nino?” Tuan Pensil kembali memanggilku. Aku hanya menoleh kearahnya dengan mata sembab dan air yang masih saja keluar tak hent – hentinya.
            “Ya?”
            “Kamu harus kuat. Kita lanjut ke cerita selanjutnya ya?” Tuan Pensil memberikan aba – aba. Aku hanya menganggukkan kepala. Dan cahaya putih kembali kulihat dan aku kembali memulai ceita selanjutnya.
            Aku terdampar entah di latar yang mana. Aku hanya melihat segelintir anak kecil yang berlari – lari dari atas sebuah bukit. Ditangan kananku tergenggam sebuah botol gelembung udara dan sebuah botol air mineral di tangan kiriku. Tiba – tiba dari bawah bukit datang seorang wanita dengan kaos biru dan kulihat ditangannya ada 2 buah roti yang Ia bawa kearahku.
            “Ini kak. Maaf ya lama” Dara? Iya dia Dara. Oh! Aku baru ingat alur ini. ini adalah kejadian dimana aku dan Dara mengisi waktu luang yang kami miliki dengan bermain diatas sebuah bukit kecil yang ada disekitar rumahku. Aku bahkan ingat dengan mengendarai apa aku kesini dan kesalahan apa yang akan terjadi disquel ini. sebenarnya aku mengajaknya kesini untuk menghiburnya. Kami bermain terlalu lama, gelembung – gelembung bulat yang bergantian kami tiup dari atas bukit membuat waktu berlalu dengan cepat.
            “Sebelum kejadian itu terjadi, saya antar kamu pulang saja ya?” Ajakku kepada Dara.
            “Kejadian? Kejadian apa kak?” Dara mulai mempertanyakan kalimat bodoh yang begitu saja terlontar dari mulutku. Tentu saja Ia tidak tahu.
            “Eh. Kejadian. Ehm” Aku mencoba mencari pergantian kalimat agar Dara mengerti.
            “Kejadian kalo sepedanya mau dipake. Kapan – kapan kita kesini lagi. Aku janji bakal bawain peniup udaranya yang lebih gede. Jadi gelembungnya pasti tambah gede. Gimana?” Dara mengangguk dengan mimik wajahnya yang masih terlihat bingung. Tidak masalah buatku dia memahami atau tidak. Meskipun dalam hati masih ingin berlama – lama dengan seseorang yang aku cintai, namun jika harus melihat wanita yang kucintai harus dimarahin oleh kedua orangtuanya beserta abangnya, lebih baik kebahagiaan yang sebenarnya ingin sekali ku rasakan ku tunda saja. Bagaimana Dara bisa sampai tepat waktu sebelum adzan maghrub berkumandang adalah hal yang lebih penting. Kebahagiaannya adalah kebahagiaanku juga, kesakitannya adalah kesakitanku juga.
            “Kamu gak malu jalan samaku naik sepeda begini?” aku mencoba bertanya pertanyaan yang tak sempat kutanyakan pada saat melangsungkan kejadian seperti ini dimasalalu. Namun setelah aku bertanya kalimat tersebut padanya, untuk beberapa menit aku tidak mendengar sama sekali jawabannya. Mungkin Ia tidak mendengar suaraku.
            “Kamu gak mal…”
            “Enggak kak! Kenapa kakak nanyak gitu? Aku malah seneng naik sepeda begini bisa lihat pemandangan bagus lebih jelas, kena angin yang seger” Jawab Dara yang duduk berboncengan denganku dibelakang. Aku hanya menggeleng sambil tersenyum. Aku sudah mengira kalimat seperti itu yang akan kudengar darinya. Aku sudah kenal jauh seperti apa Dara dan sifat yang selalu Ia pelihara dengan baik. aku berhasil mengantarkannya sampai didepan pintu gerbang rumahnya.
            “Kok sepi? Orang rumah lagi pigi ya?” Tanyaku padanya.   
            “Ehm mungkin kak. Tapi sorry ya kak ga bisa ngajak masuk soalnya ga pernah bawa temen cowo kerumah. Maaf ya?” Wajah Dara yang memelas sontak membuatku tertawa kearahnya. Mimik wajahnya kembali berubah melihatku yang tertawa bagitu Ia selesai memberikan statementnya.
            “Kakak kenapa ketawa? Emangnya ada yang lucu ya?” Dengan polosnya Ia bertanya kalimat yang mungkin membuatnya berfikir hal – hal yang jauh dari fikiranku.
            “Enggak kok haha. Abisnya kamu lucu. Gemesin anaknya. Yaudah deh ya, aku balik dulu sepedanya mau dipake yang punya”
            “Iya kak. Hati – hati ya” Dara melambaikan tangan kearah Nino. Nino hanya tersenyum membalasnya. Setelah Ia lihat sosoknya sudah masuk, airmatanya kembali tumpah. Nino berusaha keras membendungnya sebelum benar – benar orang melihatnya. Namun apa yang mengganjal perasaanya membuat Ia tak kuat membendungnya terlalu lama.
            “Jangan keluar lagi bodoh! Seharusnya kau bahagia bisa melihatnya pulang tanpa amarah orang tuanya serta saudara – saudaranya yang dulu pernah kau lihat!” Nino mencoba meyakinkan dirinya dengan logika apapun yang mungkin bisa membantu airmatanya untuk berhenti mengalir.
            “Jadi Cowok jangan cingeng! Kuat! Aku harus kuat!” Nino mengayuh sepedanya dengan tangannya yang tergenggam begitu kuat. Ia sadar apa yang Ia rasakan saat ini tak lebih dari rasa rindu yang tumpah – ruah setelah apa yang dulu pernah Ia harapkan terjadi padanya lagi. Yaitu harapan bisa mengulang kesalahan – kesalahan yang pernah Ia lakukan kepadanya.
            Tuan Pensil melihat kearahnya. Ia menunjukkan wajah bahagia Dara yang tercetak dari hasil yang telah kulakukan pada alur cerita yang baru saja Ia selesaikan. Nino hanya tersenyum kearah Tuan Pensil demikian juga dengannya.
            “Kamu tidak menangis lagi?” Entah Maksud Tuan Pensil mengejek atau heran melihat mataku kering tak seperti squel sebelumnya yang ku lewati.
            “Tuan bermaksud meledekku?” Tanyaku dengan mimik wajah yang heran begitu mendengar Ia bertanya kalimat tentang airmataku yang tidak mengalir seperti sebelumnya.
            “Oh, ofcourse bukan. Aku hanya ingin dengar alasan yang Nino punya” Ia bertanya sambil melihatku dengan penuh keyakinan.
            “Didalam squel itu tepatnya aku sudah menangis hebat. Airmata mungkin tak akan pernah kering Tuan, tapi apa yang akan ku jelaskan pada diriku sendiri jika terus – terusan menangis? Menangis memang melegakan sesak didada. Namun tidak menyelesaikan sedikitpun masalahku” Tuan Pensil hanya tersenyum kearahku. Aku yakin kepercayaan yang Ia punya padaku jauh lebih besar dibanding kepercayaanku kepada diriku sendiri, itu jelas terbukti mengingat pengalamannya dalam membantu orang – orang sepertiku yang sudah tentu punya masalah yang jauh diatasku.
            “Kamu harus segera menyelesaikan dimensi ini agar segera keluar sebagai manusia yang mendapatkan pelajaran yang lebih berharga”
            Dimensi kembali berganti. Gambarnya masih tertutup kabut putih. Sebuah taman dengan salah seorang anak SMA yang duduk sendiri memeluk boneka teddy bear-nya. Nino hanya menghela nafas. Tak perlu menghabiskan tenaga untuk mengingat kejadian apa didimensi tersebut, karena dikehidupan nyata, satu – satunya dimensi yang Ia ingat dan membekas dihatinya adalah saat – saat dimana Ia  berhadapan dengan sebuah pilihan rumit. Melawan dirinya untuk tidak berucap kalimat putus untuknya”
            “Ini Cappucino dinginnya.” Tanganku bergerak mengarahkan cappuccino dingin kesukaan dara kearahnya. Namun Ia masih merunduk tak mengangkat kepalanya meskipun aku tahu Ia sedang menutupi airmatanya dariku.
            “Kamu gak mau cappuccino dinginnya?” Tawarku lagi. Dara masih tetap diam dan tertunduk sambil memeluk boneka teddy bear yang pernah kuberikan padanya tepat pada saat anniversary hubungan kami yang ke – 6 bulan.
            “Kamu kenapa? Kalo ada masalah cerita aja samaku.” Aku bersedia menjadi relawan setia untuk selalu mendengarkan ceritanya. Baik itu masalah ataupun cerita – cerita konyol koleksinya yang terkadang membuatku jengkel. Dara tidak pernah sekalipun memperlihatkan kelemahannya kepadaku. Namun tidak pada hari itu, hari dimana Ia tak bisa berhenti memikirkan kalimat – kalimat yang terlontar dari abang kandungnya sendiri Farid. Aku tentu masih ingat akan alur ini. bahkan aku juga bisa mengingat aroma dan orang – orang dengan pakaian warna apa yang berlalu lalang melintasi taman tersebut. Karena ini adalah klimaksasi saat – saat dimana kesalahan terbesarku yang tidak mampu lagi menopang seberat apapun pilihan yang harus ku pilih. Bang Farid akhirnya tahu bahwa sang adik Dara menyimpan sebuah hubungan rahasia denganku dibelakangnya. Ia fikir Dara masih terlalu kecil untuk mengenal cinta dengan segala resiko yang bisa saja mengganggu proses belajar sang adik perempuan satu – satunya itu. dan aku paham kebaikan apa yang bang Farid coba ajarkan untuk kami.
            “Kamu masih mau diem aja? Kalo enggak aku pulang nih?” aku beranjak berdiri. Sengaja memancing Dara untuk membuka mulutnya dan berbicara masalah yang sebenarnya sudah ku ketahui. Sontak darahku mengalir naik begitu jemari – jemarinya menahan langkahku untuk bergerak meninggalkannya. Untuk itu aku berusaha menggenggam keras kedua tanganku untuk tidak menangis. Ini bukan saatnya menangisi hal yang sudah kuketahui di dunia nyata. Sekarang aku sudah berada di dunia dimensi bukan?
            “Aku bingung No, mau cerita dari mana. Aku takut” Dara berbicara dengan suaranya yang bergetar dan matanya yang memerah.
            “Loh? Kamu kenapa kok nangis?” sontak langsung ku usap linangan airmata yang mengalir di pipinya dengan sapu tanganku.
            “Kan aku udah bilang, kalo ada masalah kita harus sama – sama cerita, jangan diem – diem sendiri. Udah kamu tenang ya?” sebenarnya nada suaraku sudah kutahan untuk tidak terdengar gemetar. Hanya untuk menguatkan dirinya agar tidak terus menetesi airmata.
            “Aku bingung No mau cerita gimana, darimana. Ini tentang hubungan kita” Ya tuhan, inikah yang bisa kurasakan jika dari dulu aku sudah tahu apa yang sebenarnya Dara pendam untukku? Jika saja aku sudah tahu dari dulu mungkin menghiburnya dengan membuatnya yang menangis sebagai bahan leluconku tak akan pernah kulakukan.
            “Bang Farid udah tau hubungan kita. Aku ga pengen putus sama kamu, tapi….”
            Aku mencoba merubah fikiranku untuk tidak terprovokasi sebagai orang yang datang dari masadepan dan ingin memperbaiki kesalahanku dimasalalu. Seharusnya aku bisa memporsikan diri dimana dan dengan situasi apa aku berada. Logika ku mulai bermain. Apa yang harus ku perbaiki dari alur yang satu ini? dimasalalu mungkin aku menyerah dan mengakhiri hubunganku hanya karena kufikir memang yang terbaik adalah dengan berpisah. Bukankah itu yang terbaik? Bahkan tak harus punya cukup waktu yang lama untuk seorang Dara mencari penggantiku, Arka. Akulah yang harus menyendiri dan gagal untuk melihat masa depan hanya karena kenyataan yang kulihat membuatku tak mampu melakukan apa – apa. Rasanya mengetahui orang yang kita cintai pergi terlalu cepat dengan orang lain adalah salah satu pembodohan terbesar untuk melepaskannya begitu saja dulu. Lalu logika ku menyatu dengan perasaan yang kurasakan. Sebuah pertanyaan besar terputar diotakku
 “Apakah aku tidak ingin melihat apa yang terjadi denganku dan Dara jika hubungan ini tetap kami pertahankan dengan merahasiakannya dari Bang Farid?”
            “Sejauh mana Aku dan Dara bertahan dan mencapai klimaksasi jika masalah ini berhasil kami atasi dengan pilihan yang berbeda dengan masalalu?” Tak ada hal lain yang ku fikirkan selain bagaimana caranya tetap bertahan dengan Dara dan merahasiakannya dari Bang Farid.
            “Aku tetap bertahan, meskipun artinya harus memiliki hubungan yang terbungkus plastik hitam denganmu”
            “Semuanya begitu saja berlalu. Dara dan Seorang Nino yang bertahan dengan hubungan dibelakang abangnya, Farid. Teramat jauh kulihat hubungan itu jika saja sedari awal ku perjuangkan apa yang telah Dara percayakan padaku. Ia bahkan tak perlu mengenal Arka karena hanya ada seorang nama yang Ia miliki jauh dilubuk hatinya yang paling dalam”
Airmatapun kembali membasahi lantai dimensi tersebut. Nino menarik dirinya keluar dengan sendirinya tanpa melihat apalagi hal yang bisa terjadi dikedepan harinya. Ia melihat dirinya berdiri dengan sekuat tenaganya menahan airmata untuk kembali tumpah dihadapan Tuan Pensil. Sementara Tuan Pensil tersenyum kearahnya. Senyum yang menggambarkan sebuah kesuksesan percis sama ketika Tuan Pensil menunjuk sebuah gambar yang baru saja muncul dari dimensi alur yang baru saja Nino bereskan. Nino tak habis fikir dengan apa yang Ia lihat dari gambar tersebut. Seorang Pria dewasa dengan Wanita yang anggun dan rambutnya yang tergerai panjang disampingnya dan sepasang anak yang kelihatanya kembar sedang bermain bersama disebuah bukit yang tentu saja Ia kenal. Ya, bukit yang pernah juga menjadi saksi bisu hubungannya dengan orang yang paling dicintainya, Dara.
            “Itu aku, Dara dan anak – anak kami?” Mata kosong Nino mencoba bertanya-tanya  kepada Tuan Pensil yang masih tersenyum kearahnnya”
            “Itu keluargaku Tuan?” Nino masih tidak bisa mempercayai apa yang Ia lihat.
            “Kenapa menarik dirimu keluar sebelum kau lihat betapa indahnya kelanjutan hubunganmu dengannya hingga kejenjang pernikahan dan mempunyai sepasang anak kembar yang lucu – lucu?”
            “Tapi, tapi. Aku gak tau” Nino masih telihat tidak mempercayai kenyataan didimensi tersebut.
            “Jika Saja, Andai Saja, Seharusnya, Semestinya saat itu tidak kau lepas rebahan kepala Dara yang tersandar dibahumu, mungkin begitulah takdir Tuhan kepada kalian” Petuah Tuan Pensil untuk Nino.
            “Tapi Tuan itu artinya Dara Jodohku bukan? Mungkin kami tidak dipertemukan dihubungan masalalu kami, mungkin?” Nino memberhentikan kalimatnya melihat Tuan Pensil menggeleng – gelengkan kepalanya.
            “Mungkin kalian tidak dipertemukan dihubungan masaalalu kalian, karena kalian memang bukan jodoh. Mungkin saja jika akhirnya takdirmu menikahi wanita bernama Dara dan mempunyai anak lalu kalian bercerai? Itulah alasanku bertanya kenapa kau menarik keluar dirimu sebelum dimensi itu menarikmu keluar? Seharunya kau tahu apa yang terjadi setelah foto itu”
            “Aku tidak suka dengan ketidak realisitisan Tuan. Itulah alasanku menarik diriku keluar.”
“Ya! Memang itulah jawaban yang ingin ku dengar. Dengar Nino, kunci untuk keluar dari dimensi ini adalah saat kau mengerti realistis di dunia khayalmu dan realistis di dunia nyatamu. Banyak dari anak – anak yang gagal keluar dari sini karena mereka begitu larut dalam cerita yang mereka saksikan, tanpa keluar sebagai pemenang. Pilihanmu untuk keluar dari dimensi di foto itu sebelum waktunya tepat sekali. Karena dengan melihat kejadianmu semakin kedepan, penyesalanmu akan bertambah besar. Dan kau keluar sebagai pecundang bukan pemenang”
            “Aku ingin berterimakasih kepadamu Tuan. Karena sudah banyak membantuku disini” Tuan Pensi mengangguk kearah Nino.
            “Kau akan keluar dari dimensi ini saat kau pejamkan matamu selama 10 detik, cepatlah bangun dan implementasikan realistis di dunia mu yang sebenarnya”
            “Tuan tidak kah kau ingin ikut bersamaku?” Tanya Nino kepada Tuan Pensil.
            “Tak ada Pensil yang hidup didunia nyata Nino, pergilah.” Nino membalas senyuman kearah Tuan Pensil. Sebelum benar – benar pergi dan mungkin tak akan pernah kembali lagi kedunia yang awalnya putih dan sekarang sudah tertutup oleh gambar – gambar dimensi yang berhasil Nino perbaiki. Sebelum Ia memejamkan matanya, Ia berjalan mendekat kearah Gambar Ia, Dara, dan kedua anak kembar mereka.
“Bahagia sekali melihat kalian ada. Jika memang demikian takdirku. Kita akan bertemu”

***** Dimensi Selesai *****

            Matanya mengara kearah jam didinding ruangan tersebut, tepat pukul 03.56 pagi Nino terbangun dari lelapnya, ruangan tersebut tidak seperti ruangan kamarnya. Banyak selang – selang, dan aroma ruangannya juga tidak familiar untuk indera penciumannya. Setelah diperhatikannya ternyata selang oksigen terpacak dan membantunya bernafas. Tangan kirinya juga tersambung selang infus Ia mulai berfikir sedang dimana dan ada apa dengannya saat itu. tak ada orang diruangan itu, namun tak lama berselang setelah Ia sadar Ibunya datang keruangan tersebut dengan ekspresi wajah terkejut berlari dan memeluk anaknya yang sedang dipembaringan.
            “Ya Allah Nak, akhirnya sadar juga Alhamdulillah ya Allah. Kamu gak papa kan Nak? Apa perlu mama panggilkan Dokter?” Mamanya datang dan dengan cemasnya mengkhawatirkan kondisi sang Anak. Tak lama seorang Dokterpun datang memeriksa keadaan Nino, begitu bahagianya sang Mama mendengar bahwa Nino telah tersadar dari masa Komanya. Namun tak membuat rasa bingung Nino terhenti sampai disitu, Ia bahkan tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi dengannya. Mengapa Ia berada dirumah sakit dengan kondisi yang memprihatinkan seperti sekarang.
            Selang oksigen dilepas dari hidungnya, kini Nino bisa sedikit bernafas lega karena Dokter mengatakan kondisinya kian membaik.
            “Terimakasih mbak” tutur Nino kepada salah seorang suster yang telah selesai mencopot selang oksigennya. Nino masih bingung dengan keadaannya. Ia belum menemukan waktu yang pas dengan Mamanya untuk bertanya ada apa dengannya. Sang Mama datang setelah selesai mendengarkan nasehat Dokter.
            “Ma? Ada apasih sebenernya? Kok tau – tau Nino udah dirumah sakit begini?” Nino memaksa Mamanya untuk segera bercerita tentang kejadian yang Ia alami.
            “Kamu koma nak, udah 3 minggu kamu gak sadar.” Mama menjelaskan sambil menitikkan airmatanya melihat sang anak telah sadar dari komanya.
            “3 Minggu Ma? Emangnya aku kenapa? Sakit apa?” Nino kembali penasaran.
            “Kata dokter ada pebekuan pendarahan di otak kamu. Mama juga enggak ngerti waktu pagi Mama mau bangunin kamu tapi kamu gak bangun – bangun. Terus Mama langsung bawa kerumah sakit sama Mang Yono. Alhamdulillah akhirnya kamu kebangun juga. Awalnya udah pupus harapan Mama ngeliat kamu, tapi begitu Mama keluar dari kamar mandi tadi Mama kaget ngeliat kamu yang udah sadar”
            “Pendarahan di otak Ma? Tapi sekarang udah sembuhkan Ma?” Nino mengkhawatirkan keadaannya. Pantas saja Ia merasa pusing ketika Ia melihat kecermin ternyata ada perban yang melingkar dikepalanya.
            “Kata Dokter tadi kamu harus dicheck up dulu buat mastiin gimana pendarahan diotak kamu sekarang” Sang Mama berusaha membuat sang anak tenang. Namun itu tak membantu Nino sama sekali. Ia malah merasakan sakit dikepalanya saat Ia mengingat kejadian di dunia dimensi saat dia Koma. Ternyata dunia dimensi benar – benar hanyalah dunia khayalannya. Tapi kenapa terasa begitu nyata?
            Teman – teman Nino datang silih berganti. Berharap sahabatnya itu bisa lekas sembuh dan bisa kembali bersekolah seperti biasanya. Syadan, Rahma, dan Rangga sengaja mengulur waktu untuk tetap menemani sahabat terkedat mereka itu dirumah sakit. Bahkan Rangga berniat ingin menemani Nino dirumah sakit hingga Ia diperbolehkan kembali kerumahnya.
            “Oh iya No, waktu lo koma, lo ngeliat apa aja? Jumpa malaikat gak? Nabi? Mungkin Tuhan?” Rahma bertanya tentang pengalaman koma salah seorang sahabatnya itu. namun statementnya membuat yang lain tertawa terbahak – bahak.
            “Lo kira Nino uda dikubur sampe jumpa malaikat? Pertanyaan lu aneh – aneh aja deh” Celetuk Rangga.
            “Itu dia yang mau gua ceritain ke kalian. Waktu koma aku ga ngerti gimana bisa tau – tau gua terdampar di sebuah dunia kosong putih bersih gak ada siapapun disana. Terus..”
            Nino menceritakan dengan detail kejadian yang Ia alami selama Ia koma. Sahabat – sahabatnya terlihat seksama mendengarkan Ia bercerita. Meskipun Rangga bingung dan tidak mengerti dengan apa yang Nino ceritakan, demikian juga dengan Nino. Sampai saat ini Ia masi belum paham tentang kejadian yang Ia alami selama Koma tersebut. Yang Ia ketahui bahwa setelah keluar dari dimensi tersebut seharusnya Ia sudah terlepas dari perasaannya kepada Dara, namun tanpa diduga Ia masih merasakan perasaan tersebut kepada Dara. Itu terbukti ketika Ia bertanya kepada para sahabatnya tentang Dara.
            “Waktu gua koma, si Dara ada jenguk gak?” Tanya Nino yang sontak membuat serempak wajah ketiga sahabatnya cetus.
            “Tauk. Emangnya gua bodyguardnya.” Celetuk Rahma
            “Tauk, emangnya dia siapa kita?” Sambung Rangga
            “Gua serius Tanya sama kalian. Ada atau enggak?” Nino mempertajam pertanyaannya.
            “Gini ya No. buat apa sih lo mikirin dia? Barusan lo sendiri yang cerita ke kita kalo lo udah berhasil moveon dari dia. Terus apa hubungannya sama kehadiran dia jenguk lo?” Jelas Rangga.
            “Bukan begitu, gua Cuma pengen tau doang. Udah itu aja” Ke-empat – empatnya serempak membisu. Nino paham betul bahwa hal apa yang dilakukan para sahabatnya tersebut tak lebih karena rasa agar dirinya tidak lagi memikirkan sang mantan. Namun hati Nino tetaplah hatinya, teman – temannya mungkin bisa bersikap acuh saat Nino bertanya tentang kedatangan Dara. Namun apakah hati Nino bisa berbohong jika Ia berharap Dara menemuinya saat Ia koma?
            Kejadian tersebut membuat para teman – temannya kembali kerumah masing – masing termasuk Rangga yang pada awalnya berjanji akan tinggal dirumah sakit sampai Nino sembuh. Hanya Mamanya lah harapannya satu – satunya.
            “Loh, Syadan, Rahma sama Rangga mana?” Tanya sang Maa sambil membawa makan siang Nino.
            “Tauk.” Singkat Nino.
            “Oh iya Ma, Nino mau tanya. Waktu Nino koma ada temen cewek Nino jenguk gak Ma?”
            “Ya ada. Banyak malah. Kenapa emang?” Mama memaikan nada pertanyaannya yang terkesan curiga akan maksud dari pertanyaan sang anak.
            “Ehm. Bukan kawan SMA aku Ma. Ada?” Nino berusaha mengikuti permainan sang Mama.
            “Yang bukan kawan SMA maksud kamu?  Kayaknya ada deh. Namanya…..” Mama berusaha mengingat daftar nama – nama penjenguk saat Nino koma. Namun kelihatannya Ia tak ingat sama sekali.
            “Dara?”
            “Nah, iya! Dia datang sendirian 2 hari yang lalu. Pas sama temen – temen kamu tadi datangnya. Tapi yang anehnya pas cewe itu datang ketiga temen kamu langsung ekspresi muka nya berubah. Emang kamu gak tanya sama temen – temen kamu tadi?” Nino mengetahui begitu besarnya simpatisan para sahabatnya, namun dilain pihak , jauh didalam hatinya yang paling dalam sesungguhnya Ia masih begitu mengharapkan Dara, seberapa lantangpun suara Nino untuk berkata bohong kepada teman – temannya tak sedikitpun membuat perasaannya ikut terbohongi, apa lagi bila Ia mengingat kejadiannya dengan Dimensi aneh yang Ia alami semasa koma beberapa waktu lalu, tidak secara langsung kejadian itu membuatnya berfikir jauh lebih yakin bahwa perasaannya sebenarnya mungkin saja masih bisa di pertimbangkan. Apalagi setelah mengetahui Dara sempat mengunjunginya beberapa hari yang lalu.
            “Si Dara itu sendirian Ma?” tanya Nino balik. Mama berusaha mengingat – ingat kejadian tepatnya.
            “Sepertinya dengan seorang Pria, tapi Pria itu enggak ikut masuk. Emangnya kenapa sih?” Nino yakin sekali pria yang dimaksud sang Mama tidak lain & tidak bukan pasti Arka. Perasaanya seketika membeku rasanya tidak pantas saja mengharapkan masalalu yang sebenarnya sudah tidak berarti dimata Dara.
            “Enggak papa Ma.” Jawab Nino singkat. Semalaman Nino termenung tak bisa memejamkan matanya hanya karena fikirannya yang mencoba bermain – main dengan analogi perasaannya. Seluruh kejadian baik didunia nyata maupun didimensi yang Ia lewati Ia coba gabungkan menjadi satu dengan harapan bisa menciptakan sebuah alasan yang baik. namun sepertinya hatinya tidak pernah bisa dipermainkan, termasuk bila harus membohongi perasaan kepada dirinya sendiri.

***** Continue *****

            “Nino, bangun nak. Pasti semalam kau begadang” Mama mencoba membangunkan sang anak yang tak kunjung bangun padahal hari sudah mulai terik. Ninopun menggerakkan badannya yang semakin hari semakin membaik ke kamar mandi, pengelihatannya masih memburam Ia tidak dapat melihat dengan jelas siapa – siapa saja orang yang berjalan disamping atau didepannya. Ia terlihat masih belum benar – benar sadar dari tidurnya. Namun rasa gerahnya membuat langkahnya tak begitu saja terhenti apa lagi ingatannya begitu kuat untuk segera membasuh seluruh badannya yang sudah lengket dengan air.
            “Siapa namanya Nak?” diruang tempat Nino menginap, datang seorang Wanita yang ingin menjenguk Nino. Kebetulan sang Mama berada disana menunggu sang anak selesai membersihkan dirinya.
            “Dara tante. Kalo si Nino masih mandi, saya tunggu diluar saja. Ini buah – buahan buat Nino tante” Mamanya langsung melihat jeli wajah dan mencoba berfikir tentang siapa si ‘Dara’ yang kemarin malam sempat Nino tanyakan. Seberapa pentingnya si ‘Dara’ ini sampai – sampai menjadi orang pertama yang Nino tanyakan dibanding teman – teman sekolahnya yang lain.
            “Oh, iya makasih Dara. Tante temenin ya diluar?”
            “Oh enggak usah tante, Dara liat tante lagi sibuk membereskan kamar Nino. Saya mau liat pemandangan di rumah sakit ini. Permisi tante” Sang Mama membalas senyuman perkataan Dara Ia sempat berfikir bahwa mungkin saja Dara adalah orang yang special dimata Nino. Namun sepertinya tidak mungkin, mengingat Nino selalu bercerita tentang siapa saja wanita yang dekat dengannya.
            “Ma, Kata Dokter Nino udah diperbolehin pulang?” Nino kembali kekamarnya selesai ari kegiatan maninya dengan rambutnya yang basah.
            “Kamu tau dari mana?”
            “Tadi Nino simpangan sama Dokter, katanya begitu. Mama sebaiknya coba jumpai lagi gih si Dokter?” Tutur Nino.
            “Iya, sebentar ya. Oh Ia itu temen kamu si Dara datang sekarang dia lagi diluar. Coba cari sana, ini buah dari dia” Mama menunjuk kearah keranjang yang penuh dengan buah – buahan sambil pergi meninggalkan Nino dikamarnya untuk menjumpai Dokter yang merawat Nino. Nino terlihat membisu. Matanya kosong dan tangannya berhenti dengan kegiatan menghusap – husap kepalanya yang sejak selesai dari mandinya Ia lakukan. Ia hanya menatap kosong keranjang yang penuh dengan buah – buahan itu. Ia bahkan benar – benar tak menyangka orang yang membencinya masih mampu meringankan hatinya untuk menemui sang mantan yang pernah melukainya beberapa tahun lalu. Nino pun keluar untuk menemui orang yang kedatangannya begitu lama Ia tunggu. Dan saat ini orang itu berleluasa meringankan hatinya untuk bertemu dengan mantan yang Ia benci. Bagaimana bisa?
            “Dara?” Panggil Nino kepada seorang wanita yang mengenakan kemeja kotak – kotak yang terlihat sedang bercengkrama dengan salah seorang pasien dirumah sakit tempat Nino dirawat.
            “Eh, sebentar ya mbak.”
            “Nino? Kamu udah sadar?” Dara sontak berdiri melihat Nino yang dengan bugarnya berdiri dihadapannya. Nino mengangguk sambil tersenyum kearahnya.
            “Kita cari tempat duduk yuk? Aku juga belum begitu sehat.” Dara mengangguk.
Dibawah sebuah pohon beringin yang besar, terlihat sebuah bangku taman yang kosong tak ada yang duduk disana. Nino dan Dara terlihat mengarah kearahnya.
            “Oke, sekarang saatnya lo ceritain kenapa bisa dan bagaimana ceritanya?”
            “Cerita yang mana ra?” Nino berbalik bertanya.
            “Ya cerita kenapa lo bisa koma sampe berminggu – minggu No.” Jelas Dara.
            “Oh, ada pembekuan darah diotakku.” Jawab Nino singkat dan dengan nada yang melemah. Dara memfokuskan pandangannya kearah mantan pacarnya tersebut.
            “Kenapa Ra?”
            “Pembekuan darah diotak dan lo nganggep biasa aja gitu No?”
            “Terus kenapa?” Tanya Nino.
            “Terus kenapa lo peduliin aku Ra? Bukannya aku orang yang lo benci? Bukannya aku orang yang pernah gitu aja nyampakin lo terus akhirnya ngemis – ngemis ke lo buat balik sampe pada akhirnya”
            “Cukup No!!” Dara dengan lantangnya memotong kalimat pembicaraan Nino yang terdengar berbaur dengan usahanya untuk menahan emosi.
            “Aku ga pengen bahas itu. yang terpenting kesehatan lo sekarang!” Jelas Dara. Nino sontak memalingkan wajahnya yang tertunduk dan melihat dara dengan sorotan matanya yang terlihat mulai membasah dan menetes begitu saja tepat dihadapannya.
            “Lo masih perhatiin gua? Buat apa?! Aku fikir kamu udah lupain aku gitu aja kayak sampah! Terus sekarang? Jangan maini perasaan aku Ra! Bertahun – tahun aku berjuang buat ngelupai dan ngapus apa yang udah terjadi. Gak semudah ngatakannya Ra! Butuh waktu yang lama dan semua itu bener – bener ngabisin waktu gua dengan percuma!” Dara terlihat melawan tatapan Nino dengan tidak melihatnya. Matanya masih sama dengan mata yang Nino lihat ketika Ia mencoba memperbaiki hubungan yang terlajur pecah itu. Sepertinya sia – sia saja meyakinkan perasaan wanita yang sedang kasmaran dengan cinta barunya.
            “Aku Cuma pengen lo sebagai temen gua bisa sembuh total No. gak ada maksud buat balikin harapan atau apalah itu.”
            “Emang gampang ya Ra ngomong kalo ga ngerasain! Dengan kemunculan lo yang tiba – tiba terus gua yang masih sayang ke lo?”
            “No?” Potong Dara dengan nada suaranya yang terdengar melemah.
            “Cobak deh berenti buat mikirin masalalu. Aku memang udah enggak ada sama sekali. Buat ngembaliin semuanya sama susahnya kayak lo ngelupain semua yang pernah terjadi. Aku ga menghalangi takdir tapi mungkin untuk saat ini aku enggak bisa. Aku nganggep kamu temen, ga lebih. Jadi berentilah No buat terus – terusan berharap, aku takut kamunya yang makin sakit.”
            Nino menggenggam sekuat tenaga kepalan kedua tangannya. Matanya tertutup seperti orang yang mencoba menahan luka yang tersiram cuka. Nada – nada dan kalimat yang tidak pernah mau untuk Ia dengarkan lagi, percuma saja berbicara baik – baik dengannya jika memang sudah tidak ada cerita untuknya mau bagaimana lagi? Nino hanya berusaha menarik dan menghela nafasnya berulang – ulang. Sepertinya sudah terlalu lama dan terlalu berat Tuhan mengujinya hingga sejauh ini.
            Nino hanya mengangguk – angguk mendengar kalimat demi kalimat yang terlontar dari bibirnya. Ia hanya berusaha menjadi pendengar yang baik, karena hanya dengan begitu Ia memahami bagaimana hati wanita yang Ia sayangi.
            “Udah kan? Aku kesini Cuma mau liat kondisi kamu aja. Assalamu’alaikum.” Dara berdiri dan melangkahkan kakinya meninggalkan Nino sendiri. Hanya tangisan yang mampu mengartikan bagaimana perasaan kecewanya saat itu.
            “Seharusnya aku tidak terlalu bodoh untuk mempercayai duniaku dan dunia mu Ra” Dara pergi meninggalkannya. Sejauh matanya Ia hanya melihat kehampaan, rasanya tidak mengapa Tuhan kembali membuatnya koma atau bahkan mati sekalipun. Nino benar – benar merasa hidupnya begitu tragis, lebih tragis dari hidup – hidup orang yang jauh harus berjuang untuk hidupnya. Terlebih lagi mengingat begitu saja Ia pergi.
            “Arka sudah benar – benar mengubahmu Ra. Atau aku yang masih begitu mencintai dirimu yang dulu?” Alibi alibi bermunculan dibenaknya. Rasa sakit yang Ia rasakan berbaur dengan kesakitan yang Ia rasakan dari kepalanya, darah keluar dari hidung dan kupingnya, dan seketika dunia menghitam dan membuatnya tidak sadarkan diri.



       Nino bisa melihat dirinya dipembaringan, Ia hanya bisa melihat tanpa mampu menyentuhnya. Sang Mama terlihat histeris dan sudah berulang kali tak sadarkan diri melihat kondisi sang anak yang terbaring diatas pembaringannya. Nino sadar bahwa ternyata Ia suah tiada. Tuhan telah mengabulkan doanya seketika dan begitu menyesalnya Ia melihat sang Mama yang terus – menerus tidak sadarkan diri hanya karena melihat jasad anaknya terbaring kaku dihadapannya. Nino berusaha kembali ke raganya, namun percuma saja. Sepertinya Tuhan sudah menakdirkannya tiada. Demikian dengan para sahabatnya yang tak kunjung berhenti menitikkan airmatanya, namun sosoknya tak begitu saja datang menghampiri. Ia sadar bahwa kebencian dan kehampaan yang Dara rasakan jauh lebih besar dibanding apa yang Nino rasakan. Sampai untuk melihat orang yang pada akhirnya meninggal setelah memohon padanya saja Ia enggan. Masalalu mungkin mengajarkan banyak hal namun masalalu jugalah yang mampu mengubah seseorang menjadi orang lain. Sikap Dara yang seolah – olah membencinya mungkin adalah ekor dari apa yang Nino lakukan padanya dimasalalu. Tak perlu menyesali kesalahan yang kita lakukan, sebab penyesalan yang tidak diiringi dengan pelajaran hanyalah omong kosong belaka. Walaupun pada akhirnya orang dimasalalu itu datang lalu meminta maaf bagaimana caranya hatimu untuk memaafkan dan mulai mempercayainya kembali adalah seberapa besar keinginanmu untuk kembali memberinya kesempatan. Tak ada hal yang benar – benar sia – sia dimata Tuhan, karena hambaNya yang menyaring kesalahan dan belajar darinya adalah pemenang sejati.
            Meskipun engkau (Dara) datang dipembaringan terakhirku aku masih benar – benar kecewa melihatnya memelukmu yang tak kuasa menahan emosimu yang mungkin begitu kau sesali namun ada hal menarik lain yang aku temukan darinya, Ia bisa menjadi jauh lebih baik dariku dan tak mungkin untuknya melakukan kesalahan yang sama dengan apa yang kulakukan dimasalalu. Toh pada akhirnya aku sadar bahwa tangisanmu bukan berarti kau mencintaiku, kau hanya menyesal pernah membuat salah seorang dari masalalumu menghabiskan hayatnya hanya untuk bermain dengan bayanganmu. Itu sama sekali tak berhasil membayar rasa sesalku. Inilah apa ‘Cinta Sejati’ yang mereka perbincangkan Ra. Terkadang Cinta sejati memang tak selalu berakhir indah, sama seperti hatiku yang tak bisa mereda meskipun akhirnya Tuhan menakdirkan aku tiada. Namun dunia dimensi itu tak mampu membuat semuanya kembali utuh seperti semula. Dunia dimensi dan tuan Pinsil hanyalah halusinasi dari dunia khayalanku yang kubuat. Bisa menikah dan memiliki anak kembar darimu membuatku sadar, bahwa itu semua pernah ku fikirkan saat kita sudah tidak bersama dan itu hanyalah impianku saja. bahkan jika ada pintu doraemon dan mampu membuatku memperbaiki masalalu jika kau tidak ingin itu diperbaiki. Hati manusia adalah pusaka yang mungkin bisa dikendalikan pria yang Ia cintai, namun semuanya omong kosong jika hati yang satunya sudah tertutup untuk orang yang pernah Ia cintai, karena semuanya akan kembali jika keduanya sama – sama saling mencoba dan berusaha, jika hanya satu maka lupakanlah dan cobalah hidup sehat dengan memaafkan diri dari kesalahan atau penyesalan apapun yang pernah terjadi padanya dulu. Karena kunci awal untuk membenahi diri dan menemukan seseorang yang mampu menarik kita dari kenangan adalah dengan memaafkan diri sendiri dari kesalahan – kesalahan bodoh yang mungkin pernah terjadi.

                        Nino.

Nino & Dua Dimensi Part 2

By mysJ

            ….. Kemudian.
            Nino masih terus dengan titik fokusnya. Hanya memutar – balik handphone dengan perasaan gundah yang terus memaksanya untuk segera menghubungi wanita yang kemarin siang memberikan kartu namanya pada Nino. ini adalah squel saat – saat dimana Nino kalah dengan perasaannya. Ia ingat sekali saat dimana Ia bertanya pada Dara tentang siapa orang yang saat ini mengisi hatinya. Ia bahkan tak cukup tangguh untuk meyakinkan dirinya dengan kenyataan yang sebenarnya mencabik – cabik perasaannya. Nino kecewa.
            “Ayoo angkat dong…..” Hanya nada seperti bunyi kereta api uap yang Ia dengar dari dalam loudspeaker handphonenya. Tak ada orang disana.
            “Tut..tut..tut..”
            “Yah, gak diangkat. Mungkin lagi sibuk belajar atau gimana” Batin Nino dalam hati.
Nino ingat akan kejadian malam itu. malam dimana Ia mengurungkan niatnya untuk kembali berusaha menghubungi Dara. Di cerita sebenarnya, Dara bukannya tidak ingin mengangkat telfon dari abang kelasnya semasa SD dulu tersebut, Ia hanya sedang bersedih hati karena Dalan orang yang selama ini dekat dengannya ternyata menaruh hati kepada salah seorang sahabat Dara. Malam itu dara hanya ingin menghabiskan waktu dengan airmata. Jika bukan karena Nino tidak percaya diri dimasa lalu? Mungkin sampai waktunya tiba Dara mengira bahwa nomer handphone Nino adalah nomer handphonenya Dalan.
            “Dara, ini Nino. Kamu lagi sibuk ya? Kalo uda gak sibuk lagi mohon dibalas” singkat mungkin pesannya namun di squel ini Nino berhasi mengingat dan memperbaiki kesalahannya. Cerita mulai berubah alur saat ini. Nino yang sebenarnya tidak tahu apapun mengenai apa yang terjadi jika ceritanya berubah. Apakah Dara akan membalas lalu merasa Nino membantunya dalam memutar kesedihan yang Ia rasakan?
            “Oh, kak Nino ya? Maaf kak tadi Dara kirain siapa. Kakak lagi ngapain?” balasan pesan singkat dari Dara untuk Nino.
            “Oh tuhan dia membalasnya! Beginikah ceritanya jika dari dulu aku mengubah sifat pengecutku hanya untuk mempertebal keberanian dengan sekedar meng-sms Dara?”
            Jalan ceritanya berubah. Tak lagi sama dengan kejadian di kehidupan nyata yang pernah Nino alami. Kehadiran Nino sangat membantu Dara dalam menyisihkan kesedihan yang Ia rasakan. Nino tak hanya bermakna seorang kakak kelasnya dulu, Ia juga mampu memikul beban yang Dara rasakan dengan menjadi pendengar yang budiman saat Dara bercerita tentang masalah yang Ia alami. Tak jarang Ia mendengar Isak Dara yang mencoba menghela nafas saat Ia bercerita. Mungkin dadanya sesak mengikuti batinnya yang terikat kuat diatas kenyataan yang terjadi.
            Remang – remang wajah Tuan Pensil mulai tampak tergambar. Alur kesalahan Nino telah berubah satu persatu. Namun ada rasa tidak puas dimana saat Ia mencoba menikmati kesalahan yang beputar arah menjadi sesuatu yang benar, namun peraturan didimensi itu memaksanya untuk keluar sebelum Ia benar – benar merasa melepas kerinduan saat menjalani masa – masa dimana Ia dan Dara bersama. Ya, ini bukanlah kesempatan untuk kembali bernostalgia dan melepas rindu dengan orang yang Ia cintai. Tapi bagaimana Nino memperbaiki puing – puing kesalahan dan penyesalannya menjadi sesuatu yang paling benar dalam hidupnya.
            Gambar baru muncul didinding ruang dimensi ruang tersebut. Tergambar jelas wajah Dara yang tersenyum bahagia mendengar guyonanku di telefon. Seiring dengan airmataku yang tiba – tiba jatuh menetes.
            “Kenapa Nino?” Tanya Tuan Pensil. Namun aku hanya diam. Aku tak bisa berkata apapun tentang apa yang kurasakan saat itu. entah rasa bahagia, rasa rindu, atau rasa kecewa aku tidfak begitu mengerti. Yang kurasakan adalah begitu sesaknya dada untuk bisa mengetahui hal apa yang terjadi jika saja sudah dari awal aku memperbaikinya. Sehingga sosok Dara di kehidupan nyataku mungkin masih bersamaku dan tak ada penyesalan yang kurasakan.
            “Nino?” Tuan Pensil kembali memanggilku. Aku hanya menoleh kearahnya dengan mata sembab dan air yang masih saja keluar tak hent – hentinya.
            “Ya?”
            “Kamu harus kuat. Kita lanjut ke cerita selanjutnya ya?” Tuan Pensil memberikan aba – aba. Aku hanya menganggukkan kepala. Dan cahaya putih kembali kulihat dan aku kembali memulai ceita selanjutnya.
            Aku terdampar entah di latar yang mana. Aku hanya melihat segelintir anak kecil yang berlari – lari dari atas sebuah bukit. Ditangan kananku tergenggam sebuah botol gelembung udara dan sebuah botol air mineral di tangan kiriku. Tiba – tiba dari bawah bukit datang seorang wanita dengan kaos biru dan kulihat ditangannya ada 2 buah roti yang Ia bawa kearahku.
            “Ini kak. Maaf ya lama” Dara? Iya dia Dara. Oh! Aku baru ingat alur ini. ini adalah kejadian dimana aku dan Dara mengisi waktu luang yang kami miliki dengan bermain diatas sebuah bukit kecil yang ada disekitar rumahku. Aku bahkan ingat dengan mengendarai apa aku kesini dan kesalahan apa yang akan terjadi disquel ini. sebenarnya aku mengajaknya kesini untuk menghiburnya. Kami bermain terlalu lama, gelembung – gelembung bulat yang bergantian kami tiup dari atas bukit membuat waktu berlalu dengan cepat.
            “Sebelum kejadian itu terjadi, saya antar kamu pulang saja ya?” Ajakku kepada Dara.
            “Kejadian? Kejadian apa kak?” Dara mulai mempertanyakan kalimat bodoh yang begitu saja terlontar dari mulutku. Tentu saja Ia tidak tahu.
            “Eh. Kejadian. Ehm” Aku mencoba mencari pergantian kalimat agar Dara mengerti.
            “Kejadian kalo sepedanya mau dipake. Kapan – kapan kita kesini lagi. Aku janji bakal bawain peniup udaranya yang lebih gede. Jadi gelembungnya pasti tambah gede. Gimana?” Dara mengangguk dengan mimik wajahnya yang masih terlihat bingung. Tidak masalah buatku dia memahami atau tidak. Meskipun dalam hati masih ingin berlama – lama dengan seseorang yang aku cintai, namun jika harus melihat wanita yang kucintai harus dimarahin oleh kedua orangtuanya beserta abangnya, lebih baik kebahagiaan yang sebenarnya ingin sekali ku rasakan ku tunda saja. Bagaimana Dara bisa sampai tepat waktu sebelum adzan maghrub berkumandang adalah hal yang lebih penting. Kebahagiaannya adalah kebahagiaanku juga, kesakitannya adalah kesakitanku juga.
            “Kamu gak malu jalan samaku naik sepeda begini?” aku mencoba bertanya pertanyaan yang tak sempat kutanyakan pada saat melangsungkan kejadian seperti ini dimasalalu. Namun setelah aku bertanya kalimat tersebut padanya, untuk beberapa menit aku tidak mendengar sama sekali jawabannya. Mungkin Ia tidak mendengar suaraku.
            “Kamu gak mal…”
            “Enggak kak! Kenapa kakak nanyak gitu? Aku malah seneng naik sepeda begini bisa lihat pemandangan bagus lebih jelas, kena angin yang seger” Jawab Dara yang duduk berboncengan denganku dibelakang. Aku hanya menggeleng sambil tersenyum. Aku sudah mengira kalimat seperti itu yang akan kudengar darinya. Aku sudah kenal jauh seperti apa Dara dan sifat yang selalu Ia pelihara dengan baik. aku berhasil mengantarkannya sampai didepan pintu gerbang rumahnya.
            “Kok sepi? Orang rumah lagi pigi ya?” Tanyaku padanya.   
            “Ehm mungkin kak. Tapi sorry ya kak ga bisa ngajak masuk soalnya ga pernah bawa temen cowo kerumah. Maaf ya?” Wajah Dara yang memelas sontak membuatku tertawa kearahnya. Mimik wajahnya kembali berubah melihatku yang tertawa bagitu Ia selesai memberikan statementnya.
            “Kakak kenapa ketawa? Emangnya ada yang lucu ya?” Dengan polosnya Ia bertanya kalimat yang mungkin membuatnya berfikir hal – hal yang jauh dari fikiranku.
            “Enggak kok haha. Abisnya kamu lucu. Gemesin anaknya. Yaudah deh ya, aku balik dulu sepedanya mau dipake yang punya”
            “Iya kak. Hati – hati ya” Dara melambaikan tangan kearah Nino. Nino hanya tersenyum membalasnya. Setelah Ia lihat sosoknya sudah masuk, airmatanya kembali tumpah. Nino berusaha keras membendungnya sebelum benar – benar orang melihatnya. Namun apa yang mengganjal perasaanya membuat Ia tak kuat membendungnya terlalu lama.
            “Jangan keluar lagi bodoh! Seharusnya kau bahagia bisa melihatnya pulang tanpa amarah orang tuanya serta saudara – saudaranya yang dulu pernah kau lihat!” Nino mencoba meyakinkan dirinya dengan logika apapun yang mungkin bisa membantu airmatanya untuk berhenti mengalir.
            “Jadi Cowok jangan cingeng! Kuat! Aku harus kuat!” Nino mengayuh sepedanya dengan tangannya yang tergenggam begitu kuat. Ia sadar apa yang Ia rasakan saat ini tak lebih dari rasa rindu yang tumpah – ruah setelah apa yang dulu pernah Ia harapkan terjadi padanya lagi. Yaitu harapan bisa mengulang kesalahan – kesalahan yang pernah Ia lakukan kepadanya.
            Tuan Pensil melihat kearahnya. Ia menunjukkan wajah bahagia Dara yang tercetak dari hasil yang telah kulakukan pada alur cerita yang baru saja Ia selesaikan. Nino hanya tersenyum kearah Tuan Pensil demikian juga dengannya.
            “Kamu tidak menangis lagi?” Entah Maksud Tuan Pensil mengejek atau heran melihat mataku kering tak seperti squel sebelumnya yang ku lewati.
            “Tuan bermaksud meledekku?” Tanyaku dengan mimik wajah yang heran begitu mendengar Ia bertanya kalimat tentang airmataku yang tidak mengalir seperti sebelumnya.
            “Oh, ofcourse bukan. Aku hanya ingin dengar alasan yang Nino punya” Ia bertanya sambil melihatku dengan penuh keyakinan.
            “Didalam squel itu tepatnya aku sudah menangis hebat. Airmata mungkin tak akan pernah kering Tuan, tapi apa yang akan ku jelaskan pada diriku sendiri jika terus – terusan menangis? Menangis memang melegakan sesak didada. Namun tidak menyelesaikan sedikitpun masalahku” Tuan Pensil hanya tersenyum kearahku. Aku yakin kepercayaan yang Ia punya padaku jauh lebih besar dibanding kepercayaanku kepada diriku sendiri, itu jelas terbukti mengingat pengalamannya dalam membantu orang – orang sepertiku yang sudah tentu punya masalah yang jauh diatasku.
            “Kamu harus segera menyelesaikan dimensi ini agar segera keluar sebagai manusia yang mendapatkan pelajaran yang lebih berharga”
            Dimensi kembali berganti. Gambarnya masih tertutup kabut putih. Sebuah taman dengan salah seorang anak SMA yang duduk sendiri memeluk boneka teddy bear-nya. Nino hanya menghela nafas. Tak perlu menghabiskan tenaga untuk mengingat kejadian apa didimensi tersebut, karena dikehidupan nyata, satu – satunya dimensi yang Ia ingat dan membekas dihatinya adalah saat – saat dimana Ia  berhadapan dengan sebuah pilihan rumit. Melawan dirinya untuk tidak berucap kalimat putus untuknya”
            “Ini Cappucino dinginnya.” Tanganku bergerak mengarahkan cappuccino dingin kesukaan dara kearahnya. Namun Ia masih merunduk tak mengangkat kepalanya meskipun aku tahu Ia sedang menutupi airmatanya dariku.
            “Kamu gak mau cappuccino dinginnya?” Tawarku lagi. Dara masih tetap diam dan tertunduk sambil memeluk boneka teddy bear yang pernah kuberikan padanya tepat pada saat anniversary hubungan kami yang ke – 6 bulan.
            “Kamu kenapa? Kalo ada masalah cerita aja samaku.” Aku bersedia menjadi relawan setia untuk selalu mendengarkan ceritanya. Baik itu masalah ataupun cerita – cerita konyol koleksinya yang terkadang membuatku jengkel. Dara tidak pernah sekalipun memperlihatkan kelemahannya kepadaku. Namun tidak pada hari itu, hari dimana Ia tak bisa berhenti memikirkan kalimat – kalimat yang terlontar dari abang kandungnya sendiri Farid. Aku tentu masih ingat akan alur ini. bahkan aku juga bisa mengingat aroma dan orang – orang dengan pakaian warna apa yang berlalu lalang melintasi taman tersebut. Karena ini adalah klimaksasi saat – saat dimana kesalahan terbesarku yang tidak mampu lagi menopang seberat apapun pilihan yang harus ku pilih. Bang Farid akhirnya tahu bahwa sang adik Dara menyimpan sebuah hubungan rahasia denganku dibelakangnya. Ia fikir Dara masih terlalu kecil untuk mengenal cinta dengan segala resiko yang bisa saja mengganggu proses belajar sang adik perempuan satu – satunya itu. dan aku paham kebaikan apa yang bang Farid coba ajarkan untuk kami.
            “Kamu masih mau diem aja? Kalo enggak aku pulang nih?” aku beranjak berdiri. Sengaja memancing Dara untuk membuka mulutnya dan berbicara masalah yang sebenarnya sudah ku ketahui. Sontak darahku mengalir naik begitu jemari – jemarinya menahan langkahku untuk bergerak meninggalkannya. Untuk itu aku berusaha menggenggam keras kedua tanganku untuk tidak menangis. Ini bukan saatnya menangisi hal yang sudah kuketahui di dunia nyata. Sekarang aku sudah berada di dunia dimensi bukan?
            “Aku bingung No, mau cerita dari mana. Aku takut” Dara berbicara dengan suaranya yang bergetar dan matanya yang memerah.
            “Loh? Kamu kenapa kok nangis?” sontak langsung ku usap linangan airmata yang mengalir di pipinya dengan sapu tanganku.
            “Kan aku udah bilang, kalo ada masalah kita harus sama – sama cerita, jangan diem – diem sendiri. Udah kamu tenang ya?” sebenarnya nada suaraku sudah kutahan untuk tidak terdengar gemetar. Hanya untuk menguatkan dirinya agar tidak terus menetesi airmata.
            “Aku bingung No mau cerita gimana, darimana. Ini tentang hubungan kita” Ya tuhan, inikah yang bisa kurasakan jika dari dulu aku sudah tahu apa yang sebenarnya Dara pendam untukku? Jika saja aku sudah tahu dari dulu mungkin menghiburnya dengan membuatnya yang menangis sebagai bahan leluconku tak akan pernah kulakukan.
            “Bang Farid udah tau hubungan kita. Aku ga pengen putus sama kamu, tapi….”
            Aku mencoba merubah fikiranku untuk tidak terprovokasi sebagai orang yang datang dari masadepan dan ingin memperbaiki kesalahanku dimasalalu. Seharusnya aku bisa memporsikan diri dimana dan dengan situasi apa aku berada. Logika ku mulai bermain. Apa yang harus ku perbaiki dari alur yang satu ini? dimasalalu mungkin aku menyerah dan mengakhiri hubunganku hanya karena kufikir memang yang terbaik adalah dengan berpisah. Bukankah itu yang terbaik? Bahkan tak harus punya cukup waktu yang lama untuk seorang Dara mencari penggantiku, Arka. Akulah yang harus menyendiri dan gagal untuk melihat masa depan hanya karena kenyataan yang kulihat membuatku tak mampu melakukan apa – apa. Rasanya mengetahui orang yang kita cintai pergi terlalu cepat dengan orang lain adalah salah satu pembodohan terbesar untuk melepaskannya begitu saja dulu. Lalu logika ku menyatu dengan perasaan yang kurasakan. Sebuah pertanyaan besar terputar diotakku
 “Apakah aku tidak ingin melihat apa yang terjadi denganku dan Dara jika hubungan ini tetap kami pertahankan dengan merahasiakannya dari Bang Farid?”
            “Sejauh mana Aku dan Dara bertahan dan mencapai klimaksasi jika masalah ini berhasil kami atasi dengan pilihan yang berbeda dengan masalalu?” Tak ada hal lain yang ku fikirkan selain bagaimana caranya tetap bertahan dengan Dara dan merahasiakannya dari Bang Farid.
            “Aku tetap bertahan, meskipun artinya harus memiliki hubungan yang terbungkus plastik hitam denganmu”
            “Semuanya begitu saja berlalu. Dara dan Seorang Nino yang bertahan dengan hubungan dibelakang abangnya, Farid. Teramat jauh kulihat hubungan itu jika saja sedari awal ku perjuangkan apa yang telah Dara percayakan padaku. Ia bahkan tak perlu mengenal Arka karena hanya ada seorang nama yang Ia miliki jauh dilubuk hatinya yang paling dalam”
Airmatapun kembali membasahi lantai dimensi tersebut. Nino menarik dirinya keluar dengan sendirinya tanpa melihat apalagi hal yang bisa terjadi dikedepan harinya. Ia melihat dirinya berdiri dengan sekuat tenaganya menahan airmata untuk kembali tumpah dihadapan Tuan Pensil. Sementara Tuan Pensil tersenyum kearahnya. Senyum yang menggambarkan sebuah kesuksesan percis sama ketika Tuan Pensil menunjuk sebuah gambar yang baru saja muncul dari dimensi alur yang baru saja Nino bereskan. Nino tak habis fikir dengan apa yang Ia lihat dari gambar tersebut. Seorang Pria dewasa dengan Wanita yang anggun dan rambutnya yang tergerai panjang disampingnya dan sepasang anak yang kelihatanya kembar sedang bermain bersama disebuah bukit yang tentu saja Ia kenal. Ya, bukit yang pernah juga menjadi saksi bisu hubungannya dengan orang yang paling dicintainya, Dara.
            “Itu aku, Dara dan anak – anak kami?” Mata kosong Nino mencoba bertanya-tanya  kepada Tuan Pensil yang masih tersenyum kearahnnya”
            “Itu keluargaku Tuan?” Nino masih tidak bisa mempercayai apa yang Ia lihat.
            “Kenapa menarik dirimu keluar sebelum kau lihat betapa indahnya kelanjutan hubunganmu dengannya hingga kejenjang pernikahan dan mempunyai sepasang anak kembar yang lucu – lucu?”
            “Tapi, tapi. Aku gak tau” Nino masih telihat tidak mempercayai kenyataan didimensi tersebut.
            “Jika Saja, Andai Saja, Seharusnya, Semestinya saat itu tidak kau lepas rebahan kepala Dara yang tersandar dibahumu, mungkin begitulah takdir Tuhan kepada kalian” Petuah Tuan Pensil untuk Nino.
            “Tapi Tuan itu artinya Dara Jodohku bukan? Mungkin kami tidak dipertemukan dihubungan masalalu kami, mungkin?” Nino memberhentikan kalimatnya melihat Tuan Pensil menggeleng – gelengkan kepalanya.
            “Mungkin kalian tidak dipertemukan dihubungan masaalalu kalian, karena kalian memang bukan jodoh. Mungkin saja jika akhirnya takdirmu menikahi wanita bernama Dara dan mempunyai anak lalu kalian bercerai? Itulah alasanku bertanya kenapa kau menarik keluar dirimu sebelum dimensi itu menarikmu keluar? Seharunya kau tahu apa yang terjadi setelah foto itu”
            “Aku tidak suka dengan ketidak realisitisan Tuan. Itulah alasanku menarik diriku keluar.”
“Ya! Memang itulah jawaban yang ingin ku dengar. Dengar Nino, kunci untuk keluar dari dimensi ini adalah saat kau mengerti realistis di dunia khayalmu dan realistis di dunia nyatamu. Banyak dari anak – anak yang gagal keluar dari sini karena mereka begitu larut dalam cerita yang mereka saksikan, tanpa keluar sebagai pemenang. Pilihanmu untuk keluar dari dimensi di foto itu sebelum waktunya tepat sekali. Karena dengan melihat kejadianmu semakin kedepan, penyesalanmu akan bertambah besar. Dan kau keluar sebagai pecundang bukan pemenang”
            “Aku ingin berterimakasih kepadamu Tuan. Karena sudah banyak membantuku disini” Tuan Pensi mengangguk kearah Nino.
            “Kau akan keluar dari dimensi ini saat kau pejamkan matamu selama 10 detik, cepatlah bangun dan implementasikan realistis di dunia mu yang sebenarnya”
            “Tuan tidak kah kau ingin ikut bersamaku?” Tanya Nino kepada Tuan Pensil.
            “Tak ada Pensil yang hidup didunia nyata Nino, pergilah.” Nino membalas senyuman kearah Tuan Pensil. Sebelum benar – benar pergi dan mungkin tak akan pernah kembali lagi kedunia yang awalnya putih dan sekarang sudah tertutup oleh gambar – gambar dimensi yang berhasil Nino perbaiki. Sebelum Ia memejamkan matanya, Ia berjalan mendekat kearah Gambar Ia, Dara, dan kedua anak kembar mereka.
“Bahagia sekali melihat kalian ada. Jika memang demikian takdirku. Kita akan bertemu”

***** Dimensi Selesai *****

            Matanya mengara kearah jam didinding ruangan tersebut, tepat pukul 03.56 pagi Nino terbangun dari lelapnya, ruangan tersebut tidak seperti ruangan kamarnya. Banyak selang – selang, dan aroma ruangannya juga tidak familiar untuk indera penciumannya. Setelah diperhatikannya ternyata selang oksigen terpacak dan membantunya bernafas. Tangan kirinya juga tersambung selang infus Ia mulai berfikir sedang dimana dan ada apa dengannya saat itu. tak ada orang diruangan itu, namun tak lama berselang setelah Ia sadar Ibunya datang keruangan tersebut dengan ekspresi wajah terkejut berlari dan memeluk anaknya yang sedang dipembaringan.
            “Ya Allah Nak, akhirnya sadar juga Alhamdulillah ya Allah. Kamu gak papa kan Nak? Apa perlu mama panggilkan Dokter?” Mamanya datang dan dengan cemasnya mengkhawatirkan kondisi sang Anak. Tak lama seorang Dokterpun datang memeriksa keadaan Nino, begitu bahagianya sang Mama mendengar bahwa Nino telah tersadar dari masa Komanya. Namun tak membuat rasa bingung Nino terhenti sampai disitu, Ia bahkan tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi dengannya. Mengapa Ia berada dirumah sakit dengan kondisi yang memprihatinkan seperti sekarang.
            Selang oksigen dilepas dari hidungnya, kini Nino bisa sedikit bernafas lega karena Dokter mengatakan kondisinya kian membaik.
            “Terimakasih mbak” tutur Nino kepada salah seorang suster yang telah selesai mencopot selang oksigennya. Nino masih bingung dengan keadaannya. Ia belum menemukan waktu yang pas dengan Mamanya untuk bertanya ada apa dengannya. Sang Mama datang setelah selesai mendengarkan nasehat Dokter.
            “Ma? Ada apasih sebenernya? Kok tau – tau Nino udah dirumah sakit begini?” Nino memaksa Mamanya untuk segera bercerita tentang kejadian yang Ia alami.
            “Kamu koma nak, udah 3 minggu kamu gak sadar.” Mama menjelaskan sambil menitikkan airmatanya melihat sang anak telah sadar dari komanya.
            “3 Minggu Ma? Emangnya aku kenapa? Sakit apa?” Nino kembali penasaran.
            “Kata dokter ada pebekuan pendarahan di otak kamu. Mama juga enggak ngerti waktu pagi Mama mau bangunin kamu tapi kamu gak bangun – bangun. Terus Mama langsung bawa kerumah sakit sama Mang Yono. Alhamdulillah akhirnya kamu kebangun juga. Awalnya udah pupus harapan Mama ngeliat kamu, tapi begitu Mama keluar dari kamar mandi tadi Mama kaget ngeliat kamu yang udah sadar”
            “Pendarahan di otak Ma? Tapi sekarang udah sembuhkan Ma?” Nino mengkhawatirkan keadaannya. Pantas saja Ia merasa pusing ketika Ia melihat kecermin ternyata ada perban yang melingkar dikepalanya.
            “Kata Dokter tadi kamu harus dicheck up dulu buat mastiin gimana pendarahan diotak kamu sekarang” Sang Mama berusaha membuat sang anak tenang. Namun itu tak membantu Nino sama sekali. Ia malah merasakan sakit dikepalanya saat Ia mengingat kejadian di dunia dimensi saat dia Koma. Ternyata dunia dimensi benar – benar hanyalah dunia khayalannya. Tapi kenapa terasa begitu nyata?
            Teman – teman Nino datang silih berganti. Berharap sahabatnya itu bisa lekas sembuh dan bisa kembali bersekolah seperti biasanya. Syadan, Rahma, dan Rangga sengaja mengulur waktu untuk tetap menemani sahabat terkedat mereka itu dirumah sakit. Bahkan Rangga berniat ingin menemani Nino dirumah sakit hingga Ia diperbolehkan kembali kerumahnya.
            “Oh iya No, waktu lo koma, lo ngeliat apa aja? Jumpa malaikat gak? Nabi? Mungkin Tuhan?” Rahma bertanya tentang pengalaman koma salah seorang sahabatnya itu. namun statementnya membuat yang lain tertawa terbahak – bahak.
            “Lo kira Nino uda dikubur sampe jumpa malaikat? Pertanyaan lu aneh – aneh aja deh” Celetuk Rangga.
            “Itu dia yang mau gua ceritain ke kalian. Waktu koma aku ga ngerti gimana bisa tau – tau gua terdampar di sebuah dunia kosong putih bersih gak ada siapapun disana. Terus..”
            Nino menceritakan dengan detail kejadian yang Ia alami selama Ia koma. Sahabat – sahabatnya terlihat seksama mendengarkan Ia bercerita. Meskipun Rangga bingung dan tidak mengerti dengan apa yang Nino ceritakan, demikian juga dengan Nino. Sampai saat ini Ia masi belum paham tentang kejadian yang Ia alami selama Koma tersebut. Yang Ia ketahui bahwa setelah keluar dari dimensi tersebut seharusnya Ia sudah terlepas dari perasaannya kepada Dara, namun tanpa diduga Ia masih merasakan perasaan tersebut kepada Dara. Itu terbukti ketika Ia bertanya kepada para sahabatnya tentang Dara.
            “Waktu gua koma, si Dara ada jenguk gak?” Tanya Nino yang sontak membuat serempak wajah ketiga sahabatnya cetus.
            “Tauk. Emangnya gua bodyguardnya.” Celetuk Rahma
            “Tauk, emangnya dia siapa kita?” Sambung Rangga
            “Gua serius Tanya sama kalian. Ada atau enggak?” Nino mempertajam pertanyaannya.
            “Gini ya No. buat apa sih lo mikirin dia? Barusan lo sendiri yang cerita ke kita kalo lo udah berhasil moveon dari dia. Terus apa hubungannya sama kehadiran dia jenguk lo?” Jelas Rangga.
            “Bukan begitu, gua Cuma pengen tau doang. Udah itu aja” Ke-empat – empatnya serempak membisu. Nino paham betul bahwa hal apa yang dilakukan para sahabatnya tersebut tak lebih karena rasa agar dirinya tidak lagi memikirkan sang mantan. Namun hati Nino tetaplah hatinya, teman – temannya mungkin bisa bersikap acuh saat Nino bertanya tentang kedatangan Dara. Namun apakah hati Nino bisa berbohong jika Ia berharap Dara menemuinya saat Ia koma?
            Kejadian tersebut membuat para teman – temannya kembali kerumah masing – masing termasuk Rangga yang pada awalnya berjanji akan tinggal dirumah sakit sampai Nino sembuh. Hanya Mamanya lah harapannya satu – satunya.
            “Loh, Syadan, Rahma sama Rangga mana?” Tanya sang Maa sambil membawa makan siang Nino.
            “Tauk.” Singkat Nino.
            “Oh iya Ma, Nino mau tanya. Waktu Nino koma ada temen cewek Nino jenguk gak Ma?”
            “Ya ada. Banyak malah. Kenapa emang?” Mama memaikan nada pertanyaannya yang terkesan curiga akan maksud dari pertanyaan sang anak.
            “Ehm. Bukan kawan SMA aku Ma. Ada?” Nino berusaha mengikuti permainan sang Mama.
            “Yang bukan kawan SMA maksud kamu?  Kayaknya ada deh. Namanya…..” Mama berusaha mengingat daftar nama – nama penjenguk saat Nino koma. Namun kelihatannya Ia tak ingat sama sekali.
            “Dara?”
            “Nah, iya! Dia datang sendirian 2 hari yang lalu. Pas sama temen – temen kamu tadi datangnya. Tapi yang anehnya pas cewe itu datang ketiga temen kamu langsung ekspresi muka nya berubah. Emang kamu gak tanya sama temen – temen kamu tadi?” Nino mengetahui begitu besarnya simpatisan para sahabatnya, namun dilain pihak , jauh didalam hatinya yang paling dalam sesungguhnya Ia masih begitu mengharapkan Dara, seberapa lantangpun suara Nino untuk berkata bohong kepada teman – temannya tak sedikitpun membuat perasaannya ikut terbohongi, apa lagi bila Ia mengingat kejadiannya dengan Dimensi aneh yang Ia alami semasa koma beberapa waktu lalu, tidak secara langsung kejadian itu membuatnya berfikir jauh lebih yakin bahwa perasaannya sebenarnya mungkin saja masih bisa di pertimbangkan. Apalagi setelah mengetahui Dara sempat mengunjunginya beberapa hari yang lalu.
            “Si Dara itu sendirian Ma?” tanya Nino balik. Mama berusaha mengingat – ingat kejadian tepatnya.
            “Sepertinya dengan seorang Pria, tapi Pria itu enggak ikut masuk. Emangnya kenapa sih?” Nino yakin sekali pria yang dimaksud sang Mama tidak lain & tidak bukan pasti Arka. Perasaanya seketika membeku rasanya tidak pantas saja mengharapkan masalalu yang sebenarnya sudah tidak berarti dimata Dara.
            “Enggak papa Ma.” Jawab Nino singkat. Semalaman Nino termenung tak bisa memejamkan matanya hanya karena fikirannya yang mencoba bermain – main dengan analogi perasaannya. Seluruh kejadian baik didunia nyata maupun didimensi yang Ia lewati Ia coba gabungkan menjadi satu dengan harapan bisa menciptakan sebuah alasan yang baik. namun sepertinya hatinya tidak pernah bisa dipermainkan, termasuk bila harus membohongi perasaan kepada dirinya sendiri.

***** Continue *****

            “Nino, bangun nak. Pasti semalam kau begadang” Mama mencoba membangunkan sang anak yang tak kunjung bangun padahal hari sudah mulai terik. Ninopun menggerakkan badannya yang semakin hari semakin membaik ke kamar mandi, pengelihatannya masih memburam Ia tidak dapat melihat dengan jelas siapa – siapa saja orang yang berjalan disamping atau didepannya. Ia terlihat masih belum benar – benar sadar dari tidurnya. Namun rasa gerahnya membuat langkahnya tak begitu saja terhenti apa lagi ingatannya begitu kuat untuk segera membasuh seluruh badannya yang sudah lengket dengan air.
            “Siapa namanya Nak?” diruang tempat Nino menginap, datang seorang Wanita yang ingin menjenguk Nino. Kebetulan sang Mama berada disana menunggu sang anak selesai membersihkan dirinya.
            “Dara tante. Kalo si Nino masih mandi, saya tunggu diluar saja. Ini buah – buahan buat Nino tante” Mamanya langsung melihat jeli wajah dan mencoba berfikir tentang siapa si ‘Dara’ yang kemarin malam sempat Nino tanyakan. Seberapa pentingnya si ‘Dara’ ini sampai – sampai menjadi orang pertama yang Nino tanyakan dibanding teman – teman sekolahnya yang lain.
            “Oh, iya makasih Dara. Tante temenin ya diluar?”
            “Oh enggak usah tante, Dara liat tante lagi sibuk membereskan kamar Nino. Saya mau liat pemandangan di rumah sakit ini. Permisi tante” Sang Mama membalas senyuman perkataan Dara Ia sempat berfikir bahwa mungkin saja Dara adalah orang yang special dimata Nino. Namun sepertinya tidak mungkin, mengingat Nino selalu bercerita tentang siapa saja wanita yang dekat dengannya.
            “Ma, Kata Dokter Nino udah diperbolehin pulang?” Nino kembali kekamarnya selesai ari kegiatan maninya dengan rambutnya yang basah.
            “Kamu tau dari mana?”
            “Tadi Nino simpangan sama Dokter, katanya begitu. Mama sebaiknya coba jumpai lagi gih si Dokter?” Tutur Nino.
            “Iya, sebentar ya. Oh Ia itu temen kamu si Dara datang sekarang dia lagi diluar. Coba cari sana, ini buah dari dia” Mama menunjuk kearah keranjang yang penuh dengan buah – buahan sambil pergi meninggalkan Nino dikamarnya untuk menjumpai Dokter yang merawat Nino. Nino terlihat membisu. Matanya kosong dan tangannya berhenti dengan kegiatan menghusap – husap kepalanya yang sejak selesai dari mandinya Ia lakukan. Ia hanya menatap kosong keranjang yang penuh dengan buah – buahan itu. Ia bahkan benar – benar tak menyangka orang yang membencinya masih mampu meringankan hatinya untuk menemui sang mantan yang pernah melukainya beberapa tahun lalu. Nino pun keluar untuk menemui orang yang kedatangannya begitu lama Ia tunggu. Dan saat ini orang itu berleluasa meringankan hatinya untuk bertemu dengan mantan yang Ia benci. Bagaimana bisa?
            “Dara?” Panggil Nino kepada seorang wanita yang mengenakan kemeja kotak – kotak yang terlihat sedang bercengkrama dengan salah seorang pasien dirumah sakit tempat Nino dirawat.
            “Eh, sebentar ya mbak.”
            “Nino? Kamu udah sadar?” Dara sontak berdiri melihat Nino yang dengan bugarnya berdiri dihadapannya. Nino mengangguk sambil tersenyum kearahnya.
            “Kita cari tempat duduk yuk? Aku juga belum begitu sehat.” Dara mengangguk.
Dibawah sebuah pohon beringin yang besar, terlihat sebuah bangku taman yang kosong tak ada yang duduk disana. Nino dan Dara terlihat mengarah kearahnya.
            “Oke, sekarang saatnya lo ceritain kenapa bisa dan bagaimana ceritanya?”
            “Cerita yang mana ra?” Nino berbalik bertanya.
            “Ya cerita kenapa lo bisa koma sampe berminggu – minggu No.” Jelas Dara.
            “Oh, ada pembekuan darah diotakku.” Jawab Nino singkat dan dengan nada yang melemah. Dara memfokuskan pandangannya kearah mantan pacarnya tersebut.
            “Kenapa Ra?”
            “Pembekuan darah diotak dan lo nganggep biasa aja gitu No?”
            “Terus kenapa?” Tanya Nino.
            “Terus kenapa lo peduliin aku Ra? Bukannya aku orang yang lo benci? Bukannya aku orang yang pernah gitu aja nyampakin lo terus akhirnya ngemis – ngemis ke lo buat balik sampe pada akhirnya”
            “Cukup No!!” Dara dengan lantangnya memotong kalimat pembicaraan Nino yang terdengar berbaur dengan usahanya untuk menahan emosi.
            “Aku ga pengen bahas itu. yang terpenting kesehatan lo sekarang!” Jelas Dara. Nino sontak memalingkan wajahnya yang tertunduk dan melihat dara dengan sorotan matanya yang terlihat mulai membasah dan menetes begitu saja tepat dihadapannya.
            “Lo masih perhatiin gua? Buat apa?! Aku fikir kamu udah lupain aku gitu aja kayak sampah! Terus sekarang? Jangan maini perasaan aku Ra! Bertahun – tahun aku berjuang buat ngelupai dan ngapus apa yang udah terjadi. Gak semudah ngatakannya Ra! Butuh waktu yang lama dan semua itu bener – bener ngabisin waktu gua dengan percuma!” Dara terlihat melawan tatapan Nino dengan tidak melihatnya. Matanya masih sama dengan mata yang Nino lihat ketika Ia mencoba memperbaiki hubungan yang terlajur pecah itu. Sepertinya sia – sia saja meyakinkan perasaan wanita yang sedang kasmaran dengan cinta barunya.
            “Aku Cuma pengen lo sebagai temen gua bisa sembuh total No. gak ada maksud buat balikin harapan atau apalah itu.”
            “Emang gampang ya Ra ngomong kalo ga ngerasain! Dengan kemunculan lo yang tiba – tiba terus gua yang masih sayang ke lo?”
            “No?” Potong Dara dengan nada suaranya yang terdengar melemah.
            “Cobak deh berenti buat mikirin masalalu. Aku memang udah enggak ada sama sekali. Buat ngembaliin semuanya sama susahnya kayak lo ngelupain semua yang pernah terjadi. Aku ga menghalangi takdir tapi mungkin untuk saat ini aku enggak bisa. Aku nganggep kamu temen, ga lebih. Jadi berentilah No buat terus – terusan berharap, aku takut kamunya yang makin sakit.”
            Nino menggenggam sekuat tenaga kepalan kedua tangannya. Matanya tertutup seperti orang yang mencoba menahan luka yang tersiram cuka. Nada – nada dan kalimat yang tidak pernah mau untuk Ia dengarkan lagi, percuma saja berbicara baik – baik dengannya jika memang sudah tidak ada cerita untuknya mau bagaimana lagi? Nino hanya berusaha menarik dan menghela nafasnya berulang – ulang. Sepertinya sudah terlalu lama dan terlalu berat Tuhan mengujinya hingga sejauh ini.
            Nino hanya mengangguk – angguk mendengar kalimat demi kalimat yang terlontar dari bibirnya. Ia hanya berusaha menjadi pendengar yang baik, karena hanya dengan begitu Ia memahami bagaimana hati wanita yang Ia sayangi.
            “Udah kan? Aku kesini Cuma mau liat kondisi kamu aja. Assalamu’alaikum.” Dara berdiri dan melangkahkan kakinya meninggalkan Nino sendiri. Hanya tangisan yang mampu mengartikan bagaimana perasaan kecewanya saat itu.
            “Seharusnya aku tidak terlalu bodoh untuk mempercayai duniaku dan dunia mu Ra” Dara pergi meninggalkannya. Sejauh matanya Ia hanya melihat kehampaan, rasanya tidak mengapa Tuhan kembali membuatnya koma atau bahkan mati sekalipun. Nino benar – benar merasa hidupnya begitu tragis, lebih tragis dari hidup – hidup orang yang jauh harus berjuang untuk hidupnya. Terlebih lagi mengingat begitu saja Ia pergi.
            “Arka sudah benar – benar mengubahmu Ra. Atau aku yang masih begitu mencintai dirimu yang dulu?” Alibi alibi bermunculan dibenaknya. Rasa sakit yang Ia rasakan berbaur dengan kesakitan yang Ia rasakan dari kepalanya, darah keluar dari hidung dan kupingnya, dan seketika dunia menghitam dan membuatnya tidak sadarkan diri.



       Nino bisa melihat dirinya dipembaringan, Ia hanya bisa melihat tanpa mampu menyentuhnya. Sang Mama terlihat histeris dan sudah berulang kali tak sadarkan diri melihat kondisi sang anak yang terbaring diatas pembaringannya. Nino sadar bahwa ternyata Ia suah tiada. Tuhan telah mengabulkan doanya seketika dan begitu menyesalnya Ia melihat sang Mama yang terus – menerus tidak sadarkan diri hanya karena melihat jasad anaknya terbaring kaku dihadapannya. Nino berusaha kembali ke raganya, namun percuma saja. Sepertinya Tuhan sudah menakdirkannya tiada. Demikian dengan para sahabatnya yang tak kunjung berhenti menitikkan airmatanya, namun sosoknya tak begitu saja datang menghampiri. Ia sadar bahwa kebencian dan kehampaan yang Dara rasakan jauh lebih besar dibanding apa yang Nino rasakan. Sampai untuk melihat orang yang pada akhirnya meninggal setelah memohon padanya saja Ia enggan. Masalalu mungkin mengajarkan banyak hal namun masalalu jugalah yang mampu mengubah seseorang menjadi orang lain. Sikap Dara yang seolah – olah membencinya mungkin adalah ekor dari apa yang Nino lakukan padanya dimasalalu. Tak perlu menyesali kesalahan yang kita lakukan, sebab penyesalan yang tidak diiringi dengan pelajaran hanyalah omong kosong belaka. Walaupun pada akhirnya orang dimasalalu itu datang lalu meminta maaf bagaimana caranya hatimu untuk memaafkan dan mulai mempercayainya kembali adalah seberapa besar keinginanmu untuk kembali memberinya kesempatan. Tak ada hal yang benar – benar sia – sia dimata Tuhan, karena hambaNya yang menyaring kesalahan dan belajar darinya adalah pemenang sejati.
            Meskipun engkau (Dara) datang dipembaringan terakhirku aku masih benar – benar kecewa melihatnya memelukmu yang tak kuasa menahan emosimu yang mungkin begitu kau sesali namun ada hal menarik lain yang aku temukan darinya, Ia bisa menjadi jauh lebih baik dariku dan tak mungkin untuknya melakukan kesalahan yang sama dengan apa yang kulakukan dimasalalu. Toh pada akhirnya aku sadar bahwa tangisanmu bukan berarti kau mencintaiku, kau hanya menyesal pernah membuat salah seorang dari masalalumu menghabiskan hayatnya hanya untuk bermain dengan bayanganmu. Itu sama sekali tak berhasil membayar rasa sesalku. Inilah apa ‘Cinta Sejati’ yang mereka perbincangkan Ra. Terkadang Cinta sejati memang tak selalu berakhir indah, sama seperti hatiku yang tak bisa mereda meskipun akhirnya Tuhan menakdirkan aku tiada. Namun dunia dimensi itu tak mampu membuat semuanya kembali utuh seperti semula. Dunia dimensi dan tuan Pinsil hanyalah halusinasi dari dunia khayalanku yang kubuat. Bisa menikah dan memiliki anak kembar darimu membuatku sadar, bahwa itu semua pernah ku fikirkan saat kita sudah tidak bersama dan itu hanyalah impianku saja. bahkan jika ada pintu doraemon dan mampu membuatku memperbaiki masalalu jika kau tidak ingin itu diperbaiki. Hati manusia adalah pusaka yang mungkin bisa dikendalikan pria yang Ia cintai, namun semuanya omong kosong jika hati yang satunya sudah tertutup untuk orang yang pernah Ia cintai, karena semuanya akan kembali jika keduanya sama – sama saling mencoba dan berusaha, jika hanya satu maka lupakanlah dan cobalah hidup sehat dengan memaafkan diri dari kesalahan atau penyesalan apapun yang pernah terjadi padanya dulu. Karena kunci awal untuk membenahi diri dan menemukan seseorang yang mampu menarik kita dari kenangan adalah dengan memaafkan diri sendiri dari kesalahan – kesalahan bodoh yang mungkin pernah terjadi.

                        Nino.